Rabu, 18 Juni 2014

Bangunan Joglo dan Limasan sebagai Rumah Adat Jawa

Pada arsitektur tradisional rumah Jawa Tengah umumnya berupa Rumah  dengan model atap Joglo atau Rumah model atap Limasan. Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah tradisional Jawa yang umumnya terbuat dari kayu jati tua, yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.
Dahulu pada umumnya, rumah joglo hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkemampuan materi lebih misalnya seperti pejabat, bangsawan atau saudagar kaya. Selain karena rumah joglo membutuhkan bahan material yang banyak dan mahal karena dibuat dari kayu yang sudah benar-benar tua seperti kayu jati, kayu sono, dan lainnya. Dahulu memliki rumah joglo juga merupakan perlambang kekuatan materi dan status sosial seseorang di masyarakat.
Pada rumah joglo pada umumnya ruangan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah ruangan pertemuan yang disebut pendhopo. Bagian kedua adalah ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit pada waktu si pemlk rumah mengadakan hajatan, ruangan ini disebut pringgitan. Bagian ketiga adalah ruang belakang yang disebut ndalem atau omah jero, dan digunakan sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah kamar dalam bahsa jawa di sebut senthong, yaitu senthong kiwo, senthong tengah, dan senthong tengen.
Pendhopo memiliki fungsi sebagai tempat menerima tamu. Struktur bangunan pada pendhopo menggunakan umpak sebagai alas soko, 4 buah soko guru (tiang utama) sebagai simbol 4 arah mata angin, dan 12 soko pengarak. Ada pula tumpang sari yang merupakan susunan balik yang disangga oleh soko guru. Umumnya, tumpang sari terdapat pada pendopo bangunan yang disusun bertingkat. Tingkatan-tingkatan ini dapat pula diartikan sebagai tingkatan untuk menuju titik puncak. Menurut kepercayaan Jawa, tingkatan-tingkatan ini akan menyatu pada satu titik. Ditengahnya terdapat kayu penyangga melintang yang disebut dodo peksi atau dodo besi.

Ndalem adalah pusat pada rumah joglo. Fungsi utamanya sebagai ruang keluarga. Pada pola tata ruang, ndalem terdapat perbedaan ketinggian lantai, sehingga membagi ruang menjadi 2 area. Pada lantai yang lebih tinggi digunakan sebagai tempat keluar masuk udara, sedangkan pada bagian yang lebih rendah digunakan sebagai ruang keluarga dan senthong.

Sumber:
Serial Salam Sahabat Nusantara Jawa Tengah

Jual Gebyok Patangaring Model Krobong Ukiran gaya Surakarta


Dijual gebyok patangaring kayu jati asli lawasan model gaya Surakartan. Gebyok lawasan gaya ukiran Surakarta, ukiran tidak terlalu rame(norak) ukirannya seperti gebyok yang ada di pasaran, namun cenderung simple. Jadi meskipun kuno gebyok patangaring ini bisa menyesuaikan dengan bangunan sekarang, istilahnya bisa cocok atau matching. 

Bila gebyok ini di tempatkan dalam bangunan dengan tema ruangan apa saja pasti akan tampil eksotis, unik, dan elegant. Bahan patangaring dari kayu jati alas. Usia gebyok ini sudah puluhan tahun, di dapat dari bongkaran rumah seorang priyayi di solo. 


SPESIFIKASI :
Tinggi    : 3 meter
Panjang : 8 meter : kiri 2,5m + tengah 3m + kanan 2,5m
Bahan Kayu Jati Tua. Tebal papan 4cm kayu pethelan
Harga : Rp 18.000.000,-
Bagi anda yang berminat mengoleksi gebyok patangaring ini, segera saja anda hubungi contact person kami berikut !
Kayu Lawasan HP: 085642444004 / 08122645521