Selasa, 31 Desember 2013

Almari Kuno Ukiran Lawasan

Lemari jati ukir kuno
Di Jual almari kuno ukiran lawasan
Almari almari kuno lawasan terbuat dari kayu jati tua dengan ukiran motif flora dan naga. Didapat dari rumah tua seorang priyayi di solo. Untuk tahu mengenai asal usul dan sejarahnya perlu riset lebih mendalam. Perkiraan usianya sudah lebih dari 50 tahun.

Dimensi / ukuran lemari :
Tinggi 160cm
Panjang 90cm
Lebar 50cm

Keistimewaan dari lemari kuno ini:
Lemari ukiran kuno ini memiliki bentuk yang klasik sehingga cocok diletakkan di kamar, ruang keluarga, atau di ruang tamu rumah. Cocok ditempatkan di rumah yang memiliki tema etnik, retro, tradisional ataupun minimalis sekalipun. Sangat unik dan indah apabila difungsikan sebagai lemari pakaian atau untuk menyimpan barang-barang koleksi anda sekeluarga.

Harga: Rp 3.500.000,-

Keterangan lebih lanjut silahkan hubungi contact person disamping!

SOLD

Selasa, 24 Desember 2013

Menjual Rumah Joglo dan Limasan

Cagak Joglo Tumpangsari

Kayu Lawasan menjual bangunan Rumah Joglo, Rumah Limasan, Rumah Kampung, Rumah Tradisional, Rumah Adat, Rumah Gazebo, Rumah Lawasan, Rumah Natural, Rumah Cottage. Kayu lawasan juga menyediakan bahan-bahan furniture, dan ornament pelengkapnya. Bila anda berminat silahkan hubungi nomor Contact Person pelayanan kami.


Ulasan Rumah Joglo dan Limasan sebagai Rumah Arsitektur Jawa
Pada arsitektur tradisional rumah Jawa Tengah banyak dijumpai berupa Rumah Joglo atau Rumah Limasan. Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah tradisional Jawa yang umumnya terbuat dari kayu jati tua, yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.

Dahulu pada umumnya, rumah joglo hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkemampuan materi lebih misalnya seperti pejabat, bangsawan atau saudagar kaya. Selain karena rumah joglo membutuhkan bahan material yang banyak dan mahal karena dibuat dari kayu yang sudah benar-benar tua seperti kayu jati, kayu sono, dan lainnya. Dahulu memliki rumah joglo juga merupakan perlambang kekuatan materi dan status sosial seseorang di masyarakat.

Pada rumah joglo pada umumnya ruangan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah ruangan pertemuan yang disebut pendhopo. Bagian kedua adalah ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit pada waktu si pemlk rumah mengadakan hajatan, ruangan ini disebut pringgitan. Bagian ketiga adalah ruang belakang yang disebut ndalem atau omah jero, dan digunakan sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah kamar dalam bahsa jawa di sebut senthong, yaitu senthong kiwo, senthong tengah, dan senthong tengen.

Pendhopo memiliki fungsi sebagai tempat menerima tamu. Struktur bangunan pada pendhopo menggunakan umpak sebagai alas soko, 4 buah soko guru (tiang utama) sebagai simbol 4 arah mata angin, dan 12 soko pengarak. Ada pula tumpang sari yang merupakan susunan balik yang disangga oleh soko guru. Umumnya, tumpang sari terdapat pada pendopo bangunan yang disusun bertingkat. Tingkatan-tingkatan ini dapat pula diartikan sebagai tingkatan untuk menuju titik puncak. Menurut kepercayaan Jawa, tingkatan-tingkatan ini akan menyatu pada satu titik. Ditengahnya terdapat kayu penyangga melintang yang disebut dodo peksi atau dodo besi.


Ndalem adalah pusat pada rumah joglo. Fungsi utamanya sebagai ruang keluarga. Pada pola tata ruang, ndalem terdapat perbedaan ketinggian lantai, sehingga membagi ruang menjadi 2 area. Pada lantai yang lebih tinggi digunakan sebagai tempat keluar masuk udara, sedangkan pada bagian yang lebih rendah digunakan sebagai ruang keluarga dan senthong. (sumber: Serial Salam Sahabat Nusantara - Jawa Tengah)